Di balik kesuksesan
seseorang selalu ada sesosok wanita hebat. Menurutku sesosok wanita hebat itu
adalah seorang ibu. Hari ini, banyak orang berlomba-lomba memberi kejutan manis
bagi ibunya. Memberinya hadiah, menciptakan puisi-puisi indah. Yap, hari ini adalah
hari ibu. Berbicara soal ibu, setiap orang tentu mengidolakan ibunya
masing-masing. Setiap orang merasa ibunyalah paling hebat sedunia. Hal ini
wajar, karena ibulah orang pertama yang menjadi guru kita, mengorbankan nyawa
demi melahirkan kita di dunia, dan tak pernah lelah merawat kita.
Wanita hebat itu
kupanggil mama. Di mataku, mama adalah sosok yang paling berharga dan istimewa.
Dengan karakter sanguinisnya, mama selalu bisa membuat suasana menjadi hangat.
Namun,dengan sifat kolerisnya, mama jugalah seseorang yang tegas.
Cara mama membesarkan
seorang anak, menurutku agak berbeda dari orang kebanyakan. Aku masih ingat,
saat TK, aku bilang,” Ma, aku bolos ya.” Dan di luar dugaan mama menjawab,”Ya
gpp, bolos lho.” Akupun sering bolos sekolah waktu TK. Alasan mama saat itu,
umur segitu adalah usia anak-anak bermain, jadi tidak boleh dipaksa untuk
sekolah. Hal ini terbukti, kebiasaanku membolos hanya berlangsung saat TK saja,
saat SD dan seterusnya aku rajin sekolah
kok. Hehe..
Selain itu, mama tidak
pernah memukul atau mencubitku. Saat aku berbuat salah, mama cukup menegurku.
Aku masih ingat, saat kelas 4 SD, aku sempat menulis surat untuk ibu dan dimuat
di koran jawa pos dengan judul ‘Tak Pernah Kurasakan Cubitanmu’ dengan ilustrasi yang lucu.
Mama adalah seorang
yang humoris, saat kami ngobrol berdua, selalu saja ada hal yang membuat kita
tertawa. Rumah buatku benar-benar menjadi tempat pelepas stress yang ampuh.
Mulai cerita pengalaman-pengalaman lucu, hingga mengomentari hal-hal yang lagi hit. Hehe.. Namun, bukan manusia namanya jika
hidup tanpa cobaan. Saat kami tertimpa musibah, atau ada masalah, kamipun
saling menguatkan. Mama jugalah seorang manusia biasa, hatinya pun tidak
setegar batu karang. Saat melihat mama menangis, akupun mencoba menguatkan
mama. Begitu pula sebaliknya, saat aku menangis dan merasa sangat sedih, mama
selalu hadir dengan pelukan hangat dan kata-katanya yang menenangkan.
Satu hal yang sangat
aku kagumi dari mama adalah mama selalu rajin mendoakan anak-anaknya. Dini hari,
di saat orang lain masih terlelap, mama sudah bangun, mengambil air wudhu dan
sholat malam. Setelah itu mama berdoa. Doanya panjang. Pernah aku mendengar,
mama selalu berdoa, “Ya Allah berilah anak-anakku kebahagian di dunia dan
akhirat.” Subhanallah. Selain itu, saat anak-anaknya menempuh ujian, mama
selalu berzikir dan mulutnya tak berhenti berdoa, agar anak-anaknya selalu
diberi kemudahan. Mungkin doa-doa itulah yang selalu mengiringi langkahku dalam
menggapai cita-citaku hingga saat ini. Dari yang semula hanya mimpi seorang
anak kecil untuk menjadi seorang dokter. Setapak demi setapak mimpi itu kini mulai
terlihat nyata.
Waktu kecil, saat hari ibu,
aku selalu menulis puisi dan memberi
hadiah kecil-kecilan, misalnya coklat. Dengan hadiah seperti itu, mama
cukup senang. Saat ini, menurutku tak harus menunggu tanggal 22 Desember untuk
mengungkapkan rasa sayang kita terhadap ibu kita. Setiap hari adalah hari ibu.
Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan
kebahagiaan bagi mama, dan memberikan kesempatan buatku untuk membahagiakan
mama. Terima kasih telah menjadi ibu yang hebat bagi diriku. Menjadi anakmu
adalah anugerah terindah dalam hidupku. Jika ada orang bertanya tentang
cita-citaku sekarang, hanya satu. Selalu membuat mama menjadi orang paling bahagia
sedunia. J