Selasa, 08 Maret 2016

Menyebarkan Semangat Kartini



            Kartini merupakan seorang perempuan yang memiliki peran penting bagi kemajuan perempuan Indonesia saat ini. Berkat jasa Beliau, kita semua, para perempuan Indonesia bisa mengeyam pendidikan maupun fasilitas-fasilitas lain yang dulunya hanya diperuntukkan bagi  kaum pria. Lantas, apa yang membedakan Kartini dengan wanita-wanita lain di Indonesia. Jawabannya hanya satu. Semangat dan Kemauannya yang kuat untuk maju.  Beliau tidak ingin perempuan menjadi makhluk yang lemah. Hanya bekerja di dapur dan miskin pengetahuan tentang dunia luar.  Semangat itulah yang seharusnya kita miliki dan kembangkan. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkannya. Jawabannya tentu banyak sekali. Namun, hanya perlu beberapa langkah untuk memulainya.
Pertama-tama, kita harus membuang jauh-jauh predikat perempuan sebagai makhluk yang lemah. Walaupun kekuatan otot kita tidak sebesar kaum pria, namun kita harus menolak bila dibilang sebagai makhluk yang lemah. Kita masih punya akal dan pikiran yang bisa kita kembangkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Setelah kita bisa membuang predikat tersebut. Yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah semangat untuk maju dan selalu berpikiran positif. Don’t limit your challenges, Challenge your limit (Jangan batasi tantanganmu, tantang keterbatasanmu). Persepsi itulah yang harus ditanamkan dalam diri wanita Indonesia saat ini.
Setelah persepsi itu terbangun, saatnya kita beraksi dengan melakukan sesuatu yang sesuai dengan bidang kita. Misalnya, apabila kita berkecimpung dalam dunia sastra. Maka kita bisa menciptakan karya-karya sastra yang indah dan menyuarakan aspirasi kita melalui suatu cerpen, novel, atau puisi. Bagi yang berkecimpung di bidang kesehatan, bisa membagikan ilmunya bagi masyarakat luas melalui penyuluhan-penyuluhan atau bisa juga menciptakan inovasi baru dalam bidang kesehatan. Misalnya kita senang mengajar, jadilah guru yang hebat, sehingga bisa melahirkan murid-murid yang hebat pula. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju. Yang berbeda adalah semangat yang mengiringinya. Apapun yang kita bisa, sebaiknya kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Suatu hal yang biasa, apabila dikerjakan dengan cara yang luar biasa, maka hasilnya akan jauh berbeda.
Hal lain yang tak kalah penting adalah selalu hargai dirimu sebagai perempuan. Banyak wanita yang dianggap rendah karena kurang menjaga dirinya. Jadilah wanita yang ‘mahal’. Dengan selalu menjaga sikap dan perilaku kita terhadap orang-orang di sekeliling kita. Perempuan bukanlah objek. Tapi subjek. Jadilah perempuan yang lembut tapi tegas dalam bersikap.
Setelah menjadi sosok perempuan yang hebat, yang harus kita ingat adalah kodrat kita sebagai seorang perempuan. Kita boleh menjadi seorang wanita karir yang sukses, tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa diri kita adalah seorang perempuan. Seorang makhluk lembut yang diciptakan Tuhan untuk menjadi Ibu bagi anak-anak kita nanti. Seorang Ibulah yang menentukan ke mana arah bangsa ini melangkah. Karena dari Ibu, seorang anak belajar banyak hal yang akan membentuk karakter dan kepribadian sang anak. Jika seorang anak mendapat pengasuhan yang baik dari ibunya, tentu ia akan memiliki karakter yang baik pula..
Menjadi seorang perempuan memang bukanlah sebuah pilihan, namun takdir. Menjadi perempuan yang biasa-biasa saja atau menjadi perempuan yang luar biasa, itulah pilihan kita.(ain)

Sabtu, 21 Desember 2013

My Lovely Mom

Di balik kesuksesan seseorang selalu ada sesosok wanita hebat. Menurutku sesosok wanita hebat itu adalah seorang ibu. Hari ini, banyak orang berlomba-lomba memberi kejutan manis bagi ibunya. Memberinya hadiah, menciptakan puisi-puisi indah. Yap, hari ini adalah hari ibu. Berbicara soal ibu, setiap orang tentu mengidolakan ibunya masing-masing. Setiap orang merasa ibunyalah paling hebat sedunia. Hal ini wajar, karena ibulah orang pertama yang menjadi guru kita, mengorbankan nyawa demi melahirkan kita di dunia, dan tak pernah lelah merawat kita.

Wanita hebat itu kupanggil mama. Di mataku, mama adalah sosok yang paling berharga dan istimewa. Dengan karakter sanguinisnya, mama selalu bisa membuat suasana menjadi hangat. Namun,dengan sifat kolerisnya, mama jugalah seseorang yang tegas.

Cara mama membesarkan seorang anak, menurutku agak berbeda dari orang kebanyakan. Aku masih ingat, saat TK, aku bilang,” Ma, aku bolos ya.” Dan di luar dugaan mama menjawab,”Ya gpp, bolos lho.” Akupun sering bolos sekolah waktu TK. Alasan mama saat itu, umur segitu adalah usia anak-anak bermain, jadi tidak boleh dipaksa untuk sekolah. Hal ini terbukti, kebiasaanku membolos hanya berlangsung saat TK saja, saat SD  dan seterusnya aku rajin sekolah kok. Hehe..

Selain itu, mama tidak pernah memukul atau mencubitku. Saat aku berbuat salah, mama cukup menegurku. Aku masih ingat, saat kelas 4 SD, aku sempat menulis surat untuk ibu dan dimuat di koran jawa pos dengan judul ‘Tak Pernah Kurasakan Cubitanmu’  dengan ilustrasi yang lucu.

Mama adalah seorang yang humoris, saat kami ngobrol berdua, selalu saja ada hal yang membuat kita tertawa. Rumah buatku benar-benar menjadi tempat pelepas stress yang ampuh. Mulai cerita pengalaman-pengalaman lucu, hingga mengomentari  hal-hal yang lagi hit.  Hehe.. Namun, bukan manusia namanya jika hidup tanpa cobaan. Saat kami tertimpa musibah, atau ada masalah, kamipun saling menguatkan. Mama jugalah seorang manusia biasa, hatinya pun tidak setegar batu karang. Saat melihat mama menangis, akupun mencoba menguatkan mama. Begitu pula sebaliknya, saat aku menangis dan merasa sangat sedih, mama selalu hadir dengan pelukan hangat dan kata-katanya yang menenangkan.

Satu hal yang sangat aku kagumi dari mama adalah mama selalu rajin mendoakan anak-anaknya. Dini hari, di saat orang lain masih terlelap, mama sudah bangun, mengambil air wudhu dan sholat malam. Setelah itu mama berdoa. Doanya panjang. Pernah aku mendengar, mama selalu berdoa, “Ya Allah berilah anak-anakku kebahagian di dunia dan akhirat.” Subhanallah. Selain itu, saat anak-anaknya menempuh ujian, mama selalu berzikir dan mulutnya tak berhenti berdoa, agar anak-anaknya selalu diberi kemudahan. Mungkin doa-doa itulah yang selalu mengiringi langkahku dalam menggapai cita-citaku hingga saat ini. Dari yang semula hanya mimpi seorang anak kecil untuk menjadi seorang dokter. Setapak demi setapak mimpi itu kini mulai terlihat nyata.

Waktu kecil, saat hari ibu, aku selalu menulis puisi dan memberi  hadiah kecil-kecilan, misalnya coklat. Dengan hadiah seperti itu, mama cukup senang. Saat ini, menurutku tak harus menunggu tanggal 22 Desember untuk mengungkapkan rasa sayang kita terhadap ibu kita. Setiap hari adalah hari ibu.

Semoga  Allah selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan bagi mama, dan memberikan kesempatan buatku untuk membahagiakan mama. Terima kasih telah menjadi ibu yang hebat bagi diriku. Menjadi anakmu adalah anugerah terindah dalam hidupku. Jika ada orang bertanya tentang cita-citaku sekarang, hanya satu. Selalu membuat mama menjadi orang paling bahagia sedunia. J



Senin, 24 Juni 2013

Mahalnya Sebuah Kejujuran

A : "Nilai Unasmu berapa?"
B : " 28 koma..."
A : " Waah.. bagus ya.. emang nilai tertinggi berapa di sekolahmu?"
B : " Hampir semuanya sama, 28 juga. Cuma ada beberapa yang 26"
A : " Kok bisa gitu?"
B : " Iya, disuruh urunan 50 ribu buat beli kunci jawaban."
Mungkin dialog seperti itu sering kita dengar akhir-akhir ini. Kunci jawaban ujian bocor, kecurangan-kecurangan dalam ujian yang tersistem. Tapi yang paling bikin miris, B adalah seorang anak SD. Dari caranya berbicara, bisa kita lihat bahwa B hanyalah seorang anak SD yang masih lugu. Anak SD, usia di mana seharusnya kejujuran ditanam dan dipupuk. Kini malah, dicabut paksa oleh karena ambisi para oknum untuk mendapat 'Nama' dan apresiasi semu. Siapa yang tak ingin dianggap berhasil dalam menyelenggarakan pendidikan? siapa yang tak ingin dipuji dan naik jabatan karena dianggap 'sukses'? Semua orang tentu ingin, dan berlomba-lomba meraihnya dengan berbagai cara, termasuk cara yang tidak pantas. Bagaimana bisa seseorang menjadi begitu tega, mengorbankan masa depan anak-anak lugu itu hanya demi ambisi pribadi semata. 

Sekolah adalah tempat kita belajar. Di sanalah kita berproses. Dari awalnya tak kenal huruf, menjadi bisa membaca. Dari awalnya tak mengenal angka, menjadi pandai berhitung. Dari awalnya menganggap bumi ini datar, akhirnya tahu kalo bumi itu bulat. Proses itulah yang dinamakan belajar. Ujian adalah salah satu sarana untuk mengukur kemampuan kita, sejauh mana kita memahami sesuatu. Untuk mendapat nilai yang bagus, kita harus belajar. Karena hanya dengan belajar, kita bisa memahaminya. Dengan begitu, kita akan berusaha keras terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan.

Anak-anak  merupakan periode di mana karakter kita akan terbentuk. Pengalaman saat masa anak-anak, akan membentuk kepribadian kita di masa yang akan datang. Memberikan kunci jawaban saat ujian, bahkan menyuruh membeli kunci jawaban, mengajarkan anak untuk memperoleh segala sesuatu secara instan, tanpa menghargai proses. "Buat apa belajar? Kan sudah ada kunci jawabannya, tinggal liat kunci aja waktu ujian". Jika hal ini dibiarkan terus menerus akan berkembang menjadi watak. Inilah bibit-bibit koruptor yang sesungguhnya. Tak mau berusaha dan lebih memilih jalan pintas untuk mencapai tujuannya. Bangsa ini pun akan menjadi bangsa yang malas dan tidak mau berusaha. Setiap orang berlomba-lomba mencari jalan pintas terbaik bukan berusaha melakukan yang terbaik. Betapa ngerinya negeri ini saat itu terjadi. Bukan lagi Belanda atau Jepang yang menjajah negeri ini. Tapi rasa malas dan ketidakjujuran yang akan menjajah. 

Rasanya masih sulit untuk percaya dan menerima kenyataan jika anak SD kini sudah diajari untuk berbuat tidak jujur. Unas hanyalah menjadi sebuah proyek dan ambisi oknum-oknum tertentu agar mendapat apresiasi, dan dengan bangga merekapun berkata, "Ini berkat kerja keras dan usaha kami." 

Sabtu, 18 Agustus 2012

Hati yang Bersekolah di Bulan Ramadhan


Gema suara takbir berkumandang bersahut-sahutan. Ya, ini adalah malam terakhir dalam bulan Ramadhan. Bulan suci bagi umat muslim, yang sealu dinanti kehadirannya. Di bulan inilah, Al Qur’an pertama kali diturunkan. Pahala dilipatgandakan, bahkan tidur saja dianggap ibadah. Dan yang tak kalah istimewa adalah hadirnya malam Lailatul Qadar. Suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Subhanallah.. Sungguh dahsyat bulan Ramadhan ini. Banyak orang yang berlomba-lomba berbuat kebaikan. Berakhirnya bulan ini, tentu membuat diri kita sedih. Tapi, ada baiknya kita masih punya oleh-oleh dari Bulan Ramadhan ini. Berupa iman yang lebih tebal, dan hati yang lebih bersih.

Menurutku, Ramadhan itu sekolah. Sekolah bagi hati kita. Sekolah berarti belajar dan berlatih tentang sesuatu. Dengan menjalankan puasa, kita tak hanya menahan haus dan lapar, melainkan juga berbagai hawa nafsu yang sering membuat diri kita melenceng dari jalan Allah. Misalnya, jika di bulan-bulan sebelumnya kita sering gibah (membicarakan kejelekan orang lain), maka saat berpuasa, karena takut hal itu akan mengurangi pahala kita, kita urung melakukannya. Jika kita melakukannya (menahan untuk tidak gibah) terus menerus, hal itu menjadi kebiasaan dan terbawa hingga bulan-bulan selanjutnya.  

Puasa juga melatih diri kita untuk bersabar. Saat ingin marah, kita ingat ,”aku sedang berpuasa.”  Menunggu waktu berbuka pun, kita melakukannnya dengan bersabar. Jika hal ini dilatih terus menerus selama satu bulan, tentu akan menjadi kebiasaan yang akan kita bawa pada bulan-bulan selanjutnya.

Salah satu keistimewaan Bulan Ramadhan  adalah datangnya Malam Lailatul Qadar di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir. Beberapa saat yang lalu, aku membaca sebuah artikel Agus Mustofa di rubrik Tafakur Jawa Pos. Artikel itu membahas tentang bagaimana orang-orang yang beburu malam Lailatul Qadar. Menurut Beliau, untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar, tak cukup hanya ‘mencegatnya’ saja dengan iktikaf pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Namun, orang yang mendapat Lailatul Qadar adalah orang yang dirinya telah disucikan oleh puasa Ramadhan. Subhanallah..

Semoga dengan berakhirnya bulan Ramadhan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Hati kita berhasil sekolah dengan baik di bulan ini. Dan akhirnya, kita merayakan kelulusannya besok di Hari Raya idul fitri, dengan hati yang kembali fritri. Amiiin..
Minal Aidzin wal faidzin... Mohon Maaf lahir dan batin.. Happy Ied Mubarak.. :)

Selasa, 12 Juni 2012

Kicau Kacau..

Kacauuuu... Yah, kata inilah yang cocok menggambarkan hidupku beberapa hari ini. Mungkin agak lebai sih kedengarannya. Kacau di sini adalah di saat semua beban dan stressor ini menumpuk, dan akhirnya aku nggak bisa memanage waktuku dengan baik. Banyak tugas, ujian, kegiatan ekstrakampus,  dan yang paling bikin ribet tak lain dan tak bukan adalah proposal penelitian. Ini nih, yang bikin jam tidur gak tentu dan merusak semua jadwal yang sudah tersusun dengan rapi (ga pernah nyusun juga sih sebenernya, hehe.. )

Tapi, setiap hal yang kita alami ini pasti ada hikmahnya. Sebuah masalah akan membuat diri kita lebih dewasa dalam melangkah. Itu baru satu masalah, gimana kalo setumpuk coba, bisa setua apa diri kita nanti. hehe.. Yang jelas,apapun yang kita lakukan sekarang akan berpengaruh pada kehidupan kita di masa yang akan datang.  Inget pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Hidup ini adalah sebuah proses, bukan hasil. Yang perlu kita lakukan adalah menikmati aja proses kehidupan. Waktunya susah ya susah, waktunya seneng, ya seneng. Selain punya air mata, kita kan masih punya tawa.

Jadi, walaupun rasanya kepala ini mau pecah mikirin tugas, ujian, dan sohib-sohibnya, cara yang paling pas adalah tarik nafas dalam-dalam, senyum, dan berkata, " Aku bisa nyelesai'in ini semua". Agak absurd sih sebenarnya postingan ini..hehe.. Oke deh, Sekian kicau kacau kali ini.. Semoga bermanfaat.. haha.. :D 

Sabtu, 24 Maret 2012

Don’t fake yourself, You .. Are You..


Tiba-tiba saya teringat sebuah puisi yang dibacakan teman saya saat pelajaran Bahasa Indonesia semasa saya duduk di SMA kelas I. Puisi itu begitu singkat dan sederhana sekali kata-katanya. Tak ada hal-hal yang berbau kata-kata puitis dalam puisi itu. Beginilah kira-kira bunyinya :
Aku
Aku adalah aku... (dia mengulanginya beberapa kali dengan intonasi berbeda)
Aku bukan Kamu
Aku bukan Dia
Aku adalah aku

Sontak, seluruh kelas langsung heboh dengan puisi itu. Begitu singkat, tak bertele-tele, dan langsung pada tujuan. Sebenarnya tak ada kata-kata istimewa dengan kata-kata puisi di atas. Tak ada satupun kata yang biasanya dianggap orang dengan kata yang puitis dan menyentuh hati. Namun jika kita mencoba mendengarkan secara seksama dan mencoba memahaminya, kita akan menemukan makna yang luar biasa dalam puisi itu. Setiap orang tentu ingin merasa menjadi lebih baik dan dianggap paling baik oleh lingkungan sekitarnya.  Terkadang, karena hal inilah, seseorang seringkali menjadi yang bukan dirinya. Bukan jati dirinya. Mengimitasi orang lain, tanpa mencoba mencari tahu apa sebenarnya potensi hebat yang dimiliki. Tuhan menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang membuat segalanya menjadi seimbang. Hal inilah yang terkadang terlihat salah di mata manusia. Seolah, segala kekurangan di dunia dilimpahkan pada dirinya. Tak mau melihat betapa hebat sebenarnya  dirinya. Mungkin seseorang merasa sangat rendah diri saat bertemu dengan teman-teman yang jauh lebih cantik atau tampan darinya.

Menjadi diri sendiri sangatlah penting. Manusia diciptakan tak ada yang sama di dunia ini, bahkan sepasang kembar identikpun tidak akan sama sepenuhnya. Dengan keberagaman itulah kita harus mengerti bahwa kita memang berbeda dari lainnya, serta mengerti bahwa orang lain juga berdeda dari kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengenali potensi diri kita. Lalu mengembangkannya dan membuatnya menjadi istimewa. Sesuatu akan menjadi luar biasa jika kita melakukannya dengan senang hati dan sungguh-sungguh. Tak ada orang yang lebih rendah dari orang lain. So, tunggu apa lagi. Sudah saatnya kita menjadi diri kita sendiri, dan membuatnya lebih istimewa dari sebelumnya. Don’t fake yourself... You.. are you..

Kamis, 18 Agustus 2011

Bersyukur...


Bersyukur. Kata itu sangat mudah diucapkan, namun tak mudah dalam mempraktikannya. Tuhan telah memberikan banyak hal kepada kita. Keluarga,sahabat, karir, harta, dan berbagai kebahagiaan lain telah kita dapatkan dalam hidup ini. Namun,kita  masih saja sering merasa kurang terhadap hidup kita. Kita sering mengeluh terhadap kondisi fisik kita. Hal ini manusiawi, karena manusia memang memiliki sifat yang tak cepat puas, selalu ingin lebih, lebih, dan lebih lagi. Namun, Hal ini pulalah yang menyebabkan kita menjadi  jauh dari rasa syukur. Dan akhirnya, jauh dari Tuhan.

Ada baiknya kita merenung sejenak. Memperhatikan sekeliling kita. Memperhatikan fakta, bahwa kita masih lebih beruntung daripada orang lain. Agar kita bisa mulai belajar bersyukur.

Hal inilah yang saya tangkap, ketika saya dan teman-teman berkunjung ke YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) di kota saya, beberapa saat yang lalu. Saya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa, bertemu dengan anak-anak luar biasa di YPAC. Yang saya kagum, mereka tetap semangat, untuk bisa survive dalam berbagai keterbatasan yang mereka miliki. Kebanyakan dari mereka, memiliki keterbatasan dalam hal motorik, namun tetap memiliki intelegensi yang normal. Yang lebih hebatnya lagi, di balik segala keterbatasan yang mereka miliki, ada segudang prestasi yang ditorehkan.

Saya sempat berkenalan dengan seorang anak laki-laki yang duduk di kelas 2 SD. Ia mengalami lumpuh kaki, sehingga harus menggunakan kursi roda. Anaknya memang agak pendiam. Namun saat diajak nyanyi, dia termasuk yang paling semangat. Dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya, Ia menyanyikan bait demi bait lagu balonku. Ia juga merasa senang saat diajak membuat pesawat-pesawatan dari kertas origami. Tentu saja, ada kebahagiaan tersendiri, melihatnya tersenyum. Usut punya usut, ternyata, adik kecil itu juga jago adzan. Ia sering menjuarai lomba adzan di lingkungan rumahnya. Semakin banggalah, Saya terhadapnya. Dan yang membuat saya semakin trenyuh, ketika ditanya apa cita-citanya. Ia dengan lantang menjawab,"Jadi Polisi!". Dalam hati, sayapun hanya bisa berdoa,"Ya Allah, sembuhkanlah Ia, izinkanlah Ia meraih apa yang ia inginkan."

Kondisi anak yang saya temui di sana sungguh beragam. Hal ini membuat saya semakin sadar. Manusia diciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda. Kita harus menghormati dan menghargainya. Karena selalu ada kelebihan di balik kekurangan. Jangan pernah merasa Tuhan tak adil kepada kita karena suatu kekurangan yang kita miliki. Tuhan sangat adil, melebihi siapapun. Ia Maha Adil. Karena sesungguhnya, Ia mengetahui, apa yang tidak kita ketahui.

Apapun yang telah diberikan Tuhan kepada kita, adalah hal terbaik untuk kita. Segala cobaan yang kita terima, adalah untuk membuat kita lebih kuat dan lebih hebat dari sebelumnya.

            Setelah saat itu, saya mulai belajar bersyukur. Tentang apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Sebuah pengalaman berharga bisa bertemu dengan anak-anak luar biasa di sana.