A : "Nilai Unasmu berapa?"
B : " 28 koma..."
A : " Waah.. bagus ya.. emang nilai tertinggi berapa di sekolahmu?"
B : " Hampir semuanya sama, 28 juga. Cuma ada beberapa yang 26"
A : " Kok bisa gitu?"
B : " Iya, disuruh urunan 50 ribu buat beli kunci jawaban."
Mungkin dialog seperti itu sering kita dengar akhir-akhir ini. Kunci jawaban ujian bocor, kecurangan-kecurangan dalam ujian yang tersistem. Tapi yang paling bikin miris, B adalah seorang anak SD. Dari caranya berbicara, bisa kita lihat bahwa B hanyalah seorang anak SD yang masih lugu. Anak SD, usia di mana seharusnya kejujuran ditanam dan dipupuk. Kini malah, dicabut paksa oleh karena ambisi para oknum untuk mendapat 'Nama' dan apresiasi semu. Siapa yang tak ingin dianggap berhasil dalam menyelenggarakan pendidikan? siapa yang tak ingin dipuji dan naik jabatan karena dianggap 'sukses'? Semua orang tentu ingin, dan berlomba-lomba meraihnya dengan berbagai cara, termasuk cara yang tidak pantas. Bagaimana bisa seseorang menjadi begitu tega, mengorbankan masa depan anak-anak lugu itu hanya demi ambisi pribadi semata.
Sekolah adalah tempat kita belajar. Di sanalah kita berproses. Dari awalnya tak kenal huruf, menjadi bisa membaca. Dari awalnya tak mengenal angka, menjadi pandai berhitung. Dari awalnya menganggap bumi ini datar, akhirnya tahu kalo bumi itu bulat. Proses itulah yang dinamakan belajar. Ujian adalah salah satu sarana untuk mengukur kemampuan kita, sejauh mana kita memahami sesuatu. Untuk mendapat nilai yang bagus, kita harus belajar. Karena hanya dengan belajar, kita bisa memahaminya. Dengan begitu, kita akan berusaha keras terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan.
Anak-anak merupakan periode di mana karakter kita akan terbentuk. Pengalaman saat masa anak-anak, akan membentuk kepribadian kita di masa yang akan datang. Memberikan kunci jawaban saat ujian, bahkan menyuruh membeli kunci jawaban, mengajarkan anak untuk memperoleh segala sesuatu secara instan, tanpa menghargai proses. "Buat apa belajar? Kan sudah ada kunci jawabannya, tinggal liat kunci aja waktu ujian". Jika hal ini dibiarkan terus menerus akan berkembang menjadi watak. Inilah bibit-bibit koruptor yang sesungguhnya. Tak mau berusaha dan lebih memilih jalan pintas untuk mencapai tujuannya. Bangsa ini pun akan menjadi bangsa yang malas dan tidak mau berusaha. Setiap orang berlomba-lomba mencari jalan pintas terbaik bukan berusaha melakukan yang terbaik. Betapa ngerinya negeri ini saat itu terjadi. Bukan lagi Belanda atau Jepang yang menjajah negeri ini. Tapi rasa malas dan ketidakjujuran yang akan menjajah.
Rasanya masih sulit untuk percaya dan menerima kenyataan jika anak SD kini sudah diajari untuk berbuat tidak jujur. Unas hanyalah menjadi sebuah proyek dan ambisi oknum-oknum tertentu agar mendapat apresiasi, dan dengan bangga merekapun berkata, "Ini berkat kerja keras dan usaha kami."